The Freedom Dilemma: Is ‘FREEDOM’ that I am looking for?

Freedom?  - Experiencing Life Foundation

Kebebasan adalah hal yang paling dicari oleh hampir semua orang. Hidup yang berharga seringkali dikaitkan dengan kondisi ketika seseorang bisa membeli apa saja yang ia mau, pergi ke mana saja yang ia mau, dan menikmati hari-hari tanpa ada kewajiban atau keharusan melakukan sesuatu. Bekerja yang terikat waktu, ikatan kontrak dalam melakukan kewajiban, dan lain sebagainya, sering dianggap sebagai penghalang kebahagiaan seseorang.

Namun, tahukah Anda apa yang akan terjadi ketika seseorang bebas melakukan segala sesuatu yang ia inginkan? Erich Fromm, sebagai tokoh humanistik psikoanalisis, mengemukakan dilema dari kebebasan yang dialami manusia. Menurut teorinya, ketika seseorang ‘bebas’ melakukan sesuatu yang ia inginkan, yang akan terjadi justru ia akan mengalami keterasingan dari dunianya, sehingga kehilangan makna hidupnya. Aturan dan kewajiban melakukan sesuatu sebenarnya bukan hanya menjadi batasan terhadap kebebasan, tetapi justru memberikan makna terhadap hidup.

Sederhananya, ketika Anda bermain monopoli, misalnya, dan Anda memiliki uang yang terlalu banyak sehingga Anda bebas membangun rumah dan hotel dimanapun, tidak kehabisan sekalipun membayar sewa di negara lawan, atau leluasa membayar denda dari kartu ‘kesempatan’ atau ‘dana umum’. Biasanya, orang yang berada dalam kondisi seperti inilah orang yang pertama merasa bosan dan ingin segera menyelesaikan permainan itu. Sama halnya ketika Anda sudah berhasil menyelesaikan studi, meraih puncak karier, dan membina keluarga yang berkecukupan (bahkan mungkin berkelebihan), maka hampir dapat dipastikan Anda akan mengalami midlife crisis, suatu kondisi ketika seseorang kehilangan tujuan dan makna hidupnya. Kebebasan ternyata membuat seseorang ‘terasing’ dengan dunianya, kehilangan tujuan, dan pada akhirnya kehilangan makna hidup.

Hidup yang bermakna bukan berarti hidup yang ideal seperti yang diimpikan sebagian besar orang. Rollo May, seorang tokoh eksistensial, mengungkapkan bahwa hidup yang bermakna diperoleh ketika kita dapat menciptakan relasi yang baik dengan diri sendiri, orang lain, dan alam semesta. Menciptakan relasi yang baik perlu diawali dengan suatu kesadaran akan keberadaan diri, orang lain, dan lingkungan yang seutuhnya. Kesadaran yang utuh tersebut selanjutnya ditanggapi dengan suatu rasa saling memperhatikan dan mengasihi satu dengan lainnya. Interaksi dengan diri, orang lain, dan lingkungan yang positif itulah yang memberikan makna dalam hidup.

Mengenai kebebasan, May mendefinisikan kebebasan sebagai ‘suatu kesadaran akan keterbatasan (destiny; destined = ditentukan)’. Kebebasan yang bermakna dalam hidup seseorang ialah ketika seseorang tersebut menyadari akan keterbatasannya, akan kematian yang siap menjemputnya kapan saja, atau akan segala sesuatu yang tidak terprediksi di dalam dirinya; serta berani untuk menghadapi segala realita tersebut. Jadi, kebebasan dalam hidup justru muncul ketika seseorang menyadari bahwa dirinya terbatas tetapi tetap berani menghadapi segala konsekuensi dari keterbatasannya itu, sehingga dapat bertindak bebas dalam menghadapi hidupnya yang terbatas. Hanya dengan adanya kebebasan inilah seseorang dapat menemukan hidupnya bermakna.

Jadi, ketika saat ini Anda merasa terbebani dengan segala masalah dan tantangan dalam hidup, maka bersyukurlah karena masalah dan tantangan itu ada untuk memberikan makna dalam hidup Anda. Menolak atau menghindari masalah dan tantangan sama saja dengan menyerahkan kebebasan yang Anda miliki, dan membiarkan diri Anda terkungkung dalam suatu ‘kebebasan semu’ yang menghilangkan makna hidup Anda. Sebaliknya, ketika Anda merasa bahwa apapun yang Anda inginkan sudah terpenuhi dan mulai merasa jenuh dengan hidup Anda, itu mungkin pertanda Anda mulai kehilangan makna hidup. Solusinya, silakan ‘mencari masalah’. Tentu saja, bukan melakukan hal negatif sehingga menimbulkan masalah, tetapi tantanglah diri Anda melakukan hal-hal baru yang semula Anda takuti, namun memberikan manfaat positif bagi diri Anda, seperti: melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, berinovasi dalam bisnis baru yang bermanfaat, mempelajari bidang ilmu lain yang menarik namun belum Anda kuasai, serta hal-hal baru lainnya. Selamat ‘mencari masalah!’

“It is an ironic habit of human beings: to run faster when we have
lost our way.” 
– Rollo May

— — —

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: