Facing ‘Loss’ Without Being ‘Lost’

loss - Experiencing Life Foundation

Kesedihan adalah bagian dari kehidupan. Hidup yang dinamis selalu mengisyaratkan suatu kondisi yang tidak terprediksi: ditinggal atau meninggalkan. Bukan hanya itu, sepanjang perjalanan hidup, kegagalan dan kesuksesan juga menyertai secara silih berganti. Segala pengalaman yang sarat dengan emosi itulah yang menjadi warna dalam hidup, memberikan makna dan kualitas yang unik pada masing-masing orang.

Tidak ada yang salah dengan kesedihan. Kehilangan seseorang yang paling dikasihi, kegagalan mencapai target yang diinginkan, atau pengalaman tak terduga yang menimbulkan rasa duka lainnya adalah dinamika kehidupan. Akan tetapi, tidak jarang juga kesedihan membawa dampak negatif berkepanjangan, sehingga membuat seseorang rentan mengalami berbagai goncangan, bahkan sampai gangguan jiwa.

Kubler-Ross dalam bukunya yang berjudul “On Death and Dying” merumuskan lima tahap yang dialami seseorang ketika menghadapi kesedihan atau kehilangan. Setiap orang, tidak peduli muda atau tua, hampir selalu melakukan reaksi yang serupa ketika menghadapi musibah. Bedanya, beberapa orang berdiam diri cukup lama pada salah satu tahap, sementara beberapa orang lainnya dapat beradaptasi dengan cukup baik sehingga mampu melewati tahap demi tahap tanpa waktu yang lama. Kelima tahap reaksi seseorang ketika menghadapi kehilangan atau kesedihan ialah:

  1. Denial. Ini adalah reaksi yang paling umum dilakukan seseorang ketika dihadapkan pada musibah. Ia berusaha menolak hal tersebut, menganggap seolah-olah itu hanya mimpi, dan bersembunyi dari realita. Reaksi ini merupakan hal yang wajar dan normal sampai pada batas tertentu, sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri untuk mencegah keguncangan psikologis yang lebih dalam akibat musibah tersebut. Seorang ibu yang anaknya meninggal karena mengidap penyakit tertentu, sebagai reaksi denial-nya, bertindak seolah-olah anaknya masih hidup dengan membiarkan kondisi kamarnya seperti semula atau menyiapkan sarapan bagi anaknya walau sambil bercucuran air mata.
  2. Anger. Ketika realita mulai semakin nyata dan kita mulai ‘gagal’ menyangkalnya, reaksi yang muncul adalah kemarahan. Kita belum siap menghadapi dan menerima musibah itu. Kemarahan seringkali diarahkan pada sesuatu yang seolah-olah menyebabkan musibah itu terjadi. Sekalipun secara rasional kita paham betul bahwa tidak ada yang patut disalahkan, namun secara emosional kita tetap menyimpan kemarahan terhadap orang atau objek yang membuat musibah itu terjadi. Sang ibu yang mengetahui anaknya meninggal karena penyakit yang dideritanya, dapat melampiaskan kemarahannya pada si dokter yang mendiagnosis penyakit itu, atau bahkan kepada perawat karena tidak dapat merawat dengan baik. Kemarahan juga bisa ditujukan pada diri sendiri, menyalahkan diri karena gagal memberikan perawatan yang terbaik bagi si anak. Sekali lagi, ini adalah reaksi yang wajar.
  3. Bargaining. Merasa bahwa dirinya tidak dapat melakukan apapun untuk mengubah realita, kadangkala muncul keinginan untuk mengontrol realita. Keinginan tersebut tampak dalam pikiran imajinatif dengan bernegosiasi agar musibah itu tidak terjadi. “Jika saja saya dapat membawa anak itu berobat ke luar negeri..”, “Jika saja saya mencukupi kebutuhan gizinya sejak kecil..”, “Jika saja saya boleh memilih agar saya yang mengalami penyakit itu daripada dirinya..” Dalam bentuk yang lebih ekstrim, mungkin saja kita membuat suatu ‘negosiasi’ dengan Tuhan agar musibah itu tidak terjadi. Proses ini merupakan proses yang normal sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri yang lebih ‘lemah’ demi melindungi jiwa dari kenyataan yang pahit.
  4. Depression. Seiring dengan bertambahnya waktu, kondisi yang semula ‘akut’ mulai menjadi ‘kronis’. Kita mulai menyadari bahwa realita musibah itu nyata dan tidak lagi dapat mengelaknya. Hal ini membuat kita merasa depresi dan putus asa. Depresi dapat terkait dengan dua hal: depresi akibat konsekuensi praktis dari musibah itu (seperti: kebutuhan ekonomi yang tidak tercukupi karena anak yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal) dan depresi akibat kehilangan sosok yang dikasihi (yakni hilangnya anak yang selama ini memberikan keceriaan). Terkadang, dalam tahap ini, sebuah pelukan adalah hal yang paling kita inginkan.
  5. Acceptance. Tidak semua orang dapat mencapai tahap ini. Beberapa orang tidak mampu bangkit dari kesedihannya dan bertahan di salah satu tahap – bahkan sampai seumur hidupnya. Penerimaan muncul ketika kita mulai dapat melihat dari sisi yang berbeda, menganggap bahwa kehilangan merupakan suatu konsekuensi nyata dari kehidupan, dan dengan hati lapang mengucap syukur atas kehadiran orang tersebut – walau dalam waktu yang singkat – di dalam hidup kita, atau sekedar mengucap syukur atas kegagalan yang kita alami – walau terasa sangat sakit – namun memberikan pelajaran yang lebih dari berharga.

Menghadapi kehilangan, kesedihan, serta kedukaan adalah proses subjektif dan personal. Subjektif karena tidak ada waktu yang pasti untuk tiap orang dapat melewatinya. Personal karena tidak ada seorang pun yang dapat membantu kita menghadapi kenyataan pahit tersebut. Akan tetapi, kehadiran pasangan, keluarga, serta kerabat dekat dapat mendukung dan memampukan kita melewati masa-masa kelam itu.

“Grieving is a personal process that has no time limit, nor one-‘right’ way to do it.”
– Julie Axelrod

 

Bahan referensi:

Axelrod, J. (2006). The 5 Stages of Loss and Grief. Psych Central. Retrieved on July 10, 2013, from http://psychcentral.com/lib/2006/the-5-stages-of-loss-and-grief/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: