The Meaning of Christmas: the Joy of Giving an Unlimited Gift

Christmas gift - ELF

 

Dalam hitungan hari, umat Kristen akan merayakan Natal. Ada satu pesan menarik dari Natal yang terkait erat dengan prinsip-prinsip psikologi. Natal diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, yang bagi orang Kristen merupakan peristiwa besar untuk menggenapi kebenaran firman yang sudah disampaikan beribu tahun sebelumnya, dan bersama dengan karya hidup Kristus hingga sampai kematian-Nya, injil menjadi suatu kebenaran yang hidup dan memiliki kuasa (karena tanpa karya inkarnasi Kristus, injil hanyalah kebohongan belaka).

Terlepas dari rangkaian kisah itu, ada satu kebenaran filosofi yang unik dari peristiwa Natal dan terkait erat dengan apa yang disebut dengan psychological well-being (kesejahteraan psikologi). Natal berarti Allah Bapa memberikan dan merelakan anak-Nya untuk lahir di dunia, menebus dosa manusia tidak terkecuali, tanpa mengharapkan imbalan dari manusia. Kasih Kristus hadir dan dinyatakan bagi setiap orang, bukan karena orang itu melakukan sesuatu atau bukan mengisyaratkan sesuatu untuk dibayarkan sebagai imbalannya. Inilah pemberian yang sejati, dan dari sinilah sukacita Natal muncul.

Untuk memaknai sukacita Natal, orang Kristen membagikan sukacitanya melalui perayaan Natal, menyiapkan hadiah bagi orang-orang yang dikasihi. Kebahagiaan Natal yang sejati justru muncul bukan karena mendapatkan hadiah, melainkan karena menyiapkan dan memberikan hadiah kepada orang lain. 

Tahukah Anda bahwa memberi juga memberikan dampak psikologis yang lebih positif dan mendekatkan seseorang kepada kebahagiaan yang sebenarnya daripada menerima? Setidaknya ada 3 alasan yang mendukung hal ini.

1. Memberi mengisyaratkan peran aktif, bukan pasif. Ketika Anda memberi, berarti Anda secara aktif bertindak melakukan sesuatu. Sebaliknya, menerima berarti Anda diam dan berharap orang lain memberikannya pada Anda. Jika dikaitkan dengan kebahagiaan, dengan memberi, Anda berarti secara aktif mendefinisikan dan menciptakan kebahagiaan di dalam diri Anda, bukan menggantungkan kebahagiaan dari lingkungan atau ekspektasi terhadap apa yang orang lakukan kepada Anda. Hal ini sejalan dengan teori locus of control yang dikembangkan oleh Rottler (1954). Orang-orang yang memiliki internal locus of control memiliki peran aktif untuk dapat mengubah lingkungannya, sehingga dapat menciptakan kebahagiaannya sendiri.

2. Memberi menyatakan siapa Anda, menerima mendefinisikan siapa Anda. Seorang psikolog sosial bernama Erich Fromm, dalam bukunya yang berjudul To Have or To Be (1976) membedakan dua tipikal umum manusia, yakni kelompok being dan having. Orang-orang dalam kelompok having adalah mereka yang mengaitkan identitas dan jati dirinya berdasarkan apa yang mereka miliki. Jadi, kesenangan mereka digantungkan pada atribut yang mereka punya, termasuk yang mereka dapatkan. Sementara itu, orang-orang dalam kelompok being ialah mereka yang memiliki identitasnya tidak ditentukan oleh atribut yang melekat pada dirinya. Jadi, kebahagiaan mereka murni ditentukan oleh apa yang mereka dapat lakukan, bukan apa yang mereka dapatkan. Karakter yang produktif, tentu, adalah orang-orang being, yang kebahagiaannya sejati karena tidak bergantung pada kondisi lingkungan.

3. Kebahagiaan sejati timbul ketika manusia membina hubungan dengan sesamanya, bukan dengan objek lain. Ada yang mengatakan “money can’t buy you happiness”. Tentu ini pendapat yang benar, walaupun kita juga tahu bahwa kebahagiaan sulit terjadi jika tidak ada uang. Namun pepatah itu menunjukkan bahwa ‘kebahagiaan tidak dijual’, dan oleh karenanya Anda tidak dapat membelinya dimana-mana. William Glasser (1998) pernah mengatakan bahwa kebahagiaan yang sejati timbul ketika seseorang dapat membina hubungan yang berkualitas dengan sesamanya. Hadiah, gadget favorit, tas bermerk atau alat-alat fashion lainnya mungkin bisa membuat Anda bahagia, tetapi seringkali, bahkan selalu, memberikan kebahagiaan yang fana. Ia hanya bertahan selama beberapa waktu, dan setelahnya, semua benda itu tidak lagi membuat Anda bahagia. Itulah yang terjadi ketika Anda melekatkan kebahagiaan pada hadiah yang akan orang lain berikan pada Anda. Sebaliknya, ketika Anda memberikan hadiah, secara tidak langsung Anda pun sedang memuaskan kebutuhan Anda akan kebahagiaan dengan menjalin hubungan berkualitas dengan orang lain. Waktu ketika Anda memikirkan kebutuhan orang-orang yang Anda kasihi, waktu ketika Anda membayangkan apakah barang yang akan dibeli akan membuatnya senang serta mempertimbangkan warna favorit, jenis barang favorit, serta hal-hal lain dalam mempersiapkan hadiah, sebenarnya adalah waktu yang mendatangkan kebahagiaan bagi Anda. Begitu pula ketika Anda memberikan hadiah serta melihat reaksi orang yang Anda berikan hadiahnya, Anda mendapat kebahagiaan sejati itu.

 

Memberi pada dasarnya berbagi kebahagiaan kepada orang lain, tetapi juga mendapat kebahagiaan di waktu yang sama ketika Anda memberi. Dengan memberi, Anda tidak pernah kehabisan, justru semakin berkelimpahan.

Pada akhirnya, benarlah yang dikatakan dalam Kis 20: 35b: “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”

 

“The love we give away is the only love we keep.”
– Elbert Hubbard

Advertisements

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: